Sapa Terakhir
Oleh Salma Nur Aeni
”Hati-hati dijalan ya nak,” ucap beliau dengan lembut. “Iya
Ayah,” jawab gadis itu. “Ya sudah, matikan teleponnya sekarang tidak apa-apa,”
perintah beliau. “Baik Ayah, Assalamu’alaikum,” balas sang gadis menurut. “Waalaikum
salam,” jawab sang Ayah.
Terputuslah
telepon si gadis dengan sang ayah yang seminggu lalu berangkat bekerja lagi.
Sang gadis yang kini telah bersama teman-temannya bersiap menaiki bus. Betapa
riangnya gadis 14 tahun ini, dapat menjamah ibukota tempat ayahnya bekerja yang
selama ini hanya terbesit di angannya, ditambah lagi ia satu bus dengan
sahabatnya. Bus berjalan lancar, tak terlintas pikiran apapun dalam benaknya
selain kebahagiaan. Ibunya senantiasa bertanya akan kabarnya, menanyai apapun yang
sedang dilakukannya. Ia sudah terbiasa akan hal ini.
Ia pun
tak terpikir akan ayahnya, karena ia tahu, ayahnya tak pernah ingin mengganggu
kesenangannya, dan ayahnya pasti akan mengetahui kabarnya melalui ibunya. Ia
pun berpikir lega sekaligus sangat bahagia, Di hari kedua ia sangat menikmati
wahana-wahana yang disuguhkan di taman bermain yang sangat terkenal di kota
metropolitan itu. Dari siang hingga petang hatinya tak pernah luput dari
kesenangan.
Tak
terasa hari sudah malam, ia bersama rombongan sudah di bus untuk melanjutkan
perjalanan sembari menunggu hari terakhir untuk berkunjung ke kota Pekalongan.
Tak lupa sang ibu bertanya akan kabarnya melalui ponsel. Hingga teman-teman di
bus terlelap, ia masih berkirim pesan dengan ibunya. Seakan ia tak ingin satu
hal pun terlewat untuk diceritakan kepada ibundanya itu. Terkadang ia tersenyum
kecil karena lega mengetahui kabar ibunya yang baik-baik saja di rumah.
Rasa
kantuk yang amat sangat mendatanginya, hingga ia memutuskan untuk menyudahi
percakapan dengan ibunya malam itu sembari berharap semoga hari esok menjadi
penutup termanis pada perjalanannya kali ini.
Pagi datang,
tirai pada kaca bus mulai berhembus. Belum ada setengah perjalanan ia tempuh.
Saat itu ia masih bercanda dengan kawan-kawannya. Hingga menjelang siang, teman
sebangkunya yang juga sahabatnya itu menerima telepon dari saudaranya. Raut
wajah temannya itu tetap seperti biasa, hingga akhirnya dari telepon, saudara
yang meneleponnya meminta untuk berbicara dengan guru yang mengawasi bus nya.
Tak ada
curiga sedikitpun dari sang gadis, ia tetap ceria. Hingga akhirnya ia sampai di
tempat transit berikutnya yaitu restoran. Dari situ, ia berniat untuk menelepon
ibunya karena sejak pagi ibunya belum menghubunginya. 3 hingga 4 panggilan tak
kunjung dijawab oleh sang ibu, hingga beberapa kali ia menelepon ayahnya yang
biasanya sudah mengetahui kabar ibunya ketika pagi hari, namun sama. Tak ada
jawaban. Ia berfikir sang ayah pasti sudah mulai berangkat ke kantornya dan
beliau pasti sibuk.
Tak ada
raut bahagia lagi di wajah sang gadis itu. Wajahnya sangat gelisah dan bingung
harus menghubungi siapa, yang terlintas di pikirannya, ia harus berbicara
dengan ibunya saat itu juga. Akhirnya ia putuskan untuk menelepon ibunya lagi,
dan akhirnya ada yang menjawab telepon, “Hallo,” ucap sang gadis lirih “Halo,
ini Bulik nak,” jawab orang yang menerima telepon. “Kok Bulik? Ibu dimana
Bulik? Saya mau bicara dengan Ibu sekarang Bulik,”tanya sang gadis kebingungan.
“I.. Iya Nak, Ibu lagi dirumah tetangga sebentar,”jawab sang Bulik dengan nada
kebingungan. “Ibu mana Bulik? Ibu mana? Bulik kok juga tumben datang kerumah?,”
tanya si gadis karena merasa ada sesuatu yang disembunyikan. “Nanti kalau Ibu
sudah pulang Bulik kabari ya, Ibu tidak apa-apa kok,”jawab sang Bulik dengan
nada menghibur. “Ya, Bulik,” jawab sang gadis singkat dengan wajah yang tampak
sedih. Telepon itu diakhiri.
Perjalanan berlanjut hingga
akhirnya ia sampai di kota tujuan, Pekalongan. Tujuan perjalanan kesana untuk
berziarah. Cuaca hari itu sangat panas ditambah perasaan si gadis yang sedang
sedih. Teman-teman yang lain sudah turun, ia bersama sahabatnya pun ikut turun.
Namun, si gadis tiba-tiba tidak ingin ke makam dimana banyak orang berziarah,
entah karena sudah ramai pengunjung atau karena hal lain, ia sendiri pun tidak
tahu.
Ia diajak sahabatnya untuk
melihat baju-baju batik yang di jual berderet-deret di setiap toko yang tak
jauh dari tempat ziarah. Saat temannya memilih-milih batik, ia teringat Ibunya.
“Ibu, aku harus bicara dengan Ibu,”ucap sang gadis di dalam hati. Ibunya tak
kunjung mengangkat teleponnya. Sang gadis melihat kursi diantara baju-baju
batik yang tertata rapi. Entah karena apa, tiba-tiba ia terduduk di kursi itu dan
menangis sejadi-jadinya, ia merasa kehilangan sesuatu, tapi apa, tak ada barang
yang tertinggal, uang saku pun tak ada yang hilang.
Yang ada dipikiran sang gadis
hanya ibunya, dan sesuatu yang terasa hilang darinya. Sesuatu yang luar biasa
berharga, terasa ada yang ,merebutnya. Namun ketika ia mengingat, tak ada yang
hilang sama sekali. Hatinya terasa teriris, ia sempat berpikir, apa karena ia
sedang di daerah dekat makam sehingga terbawa suasana dan berpikir tentang hal
yang tidak-tidak akan ibunya. Ia sangat takut akan ibunya. Ditambah Buliknya
tadi berbicara dengan gugup dan dengan nada menghibur. Sampai siang ini ia
belum jua mendengar suara ibunya.
Sahabatnya yang sedang memilih
baju tersadar bahwa dia sedang menangis, direngkuhlah si gadis sembari
dihiburnya, “Ibumu baik-baik saja, jangan takut, ada aku. Aku yakin sebentar
lagi Ibumu akan menghubungimu.” Bahkan beberapa guru yang melintas juga
melihatnya. Mereka pun turut menghiburnya. Tak berapa lama, ada telepon
berbunyi, “Alhamdulillah, Ibu.” Ucapnya sembari mengusap air mata dikedua belah
pipinya.
“Tuh kan, Ibumu nelpon,”
kata sahabatnya sambil tersenyum. Langsung cepat-cepat ia angkat telepon itu.
“Halo? Ibu? Ibu darimana? Saya khawatir, Ibu kenapa tadi Bulik yang angkat
telepon? Kok tumben sekali Bulik datang kerumah? Ada apa Bu?,” jutaan
pertanyaan muncul dari sang gadis. Sang Ibu menjawab pelan, “Pelan-pelan Nak,
iya Ibu dari tetangga, sekarang Ibu sedang menjaga adikmu yang sedang tidur,
Bulik memang kesini untuk menanyakan belanjaannya yang kemarin ia titipkan pada
Ibu.”
“Oh
begitu bu, Ya sudah bu, saya cuma khawatir
aja tadi karena belum dapat kabar seharian dari Ibu, saya juga nelpon bapak beberapa kali tidak ada
jawaban,” jawab si gadis. Ibunya hanya mengiyakan ucapan anaknya itu.
Lega
terasa dalam hati si gadis karena mendapati Ibunya baik-baik saja, walau tetap
saja dalam lubuk hati kecilnya ia merasa ada hal yang benar-benar hilang dari
hidupnya, namun sepertinya gadis itu terlihat tidak begitu peduli akan
perasaannya itu. Teman-temannya pun tak henti membuatnya tertawa dan
benar-benar hilang perasaan itu untuk saat ini.
Bus
melaju lagi, tujuan kali ini adalah pulang. Hingga akhirnya bus tiba di sekolah
sebelum maghrib. Sang gadis turun dari bus. Ia berniat pulang jalan kaki karena
jarak rumah ke sekolah ±1 km. Tak begitu jauh baginya karena itu sudah
kebiasaannya. Namun sangat tak terduga, ia dijemput kakak sepupunya. “Ayo
naik!,” ajaknya. “Tumben mbak, mau jemput, emang Ibu nyuruh?,” tanya si gadis.
“Aku kan baik hati.” Jawabnya sambil ketawa.
Naiklah
si gadis di motor kakaknya. Namun, ketika sampai rumah, ada beberapa tenda dan
beberapa kotak putih yang biasa digunakan untuk sumbangan. Saat si gadis turun
dari motor, tepat didepannya terpasang bendera lelayu (tanda ada orang meninggal). Banyak orang berkerumun disana, menatap si
gadis. Seperti ingin berkata sesuatu, tapi mereka seperti tak kuasa mengatakan.
“Mbak!
Ada apa ini Mbak? Siapa yang meninggal mbak?!,” tanya si gadis dengan nada
membentak. Sang kakak terlihat bingung harus menjawab apa, “Itu, tadi ada itu
loh, PKK,” jawab sang kakak sekenanya. “Kalau cuma PKK kenapa ada kotak
sumbangan, terus kenapa ada bendera ini mbak!.” Bentak si gadis.
“Sudahlah,
masuklah dulu, kamu udah keberatan bawa tasmu itu,” kata sang kakak. Masuklah
si gadis ke rumah. Di muka pintu disambutlah ia dengan beberapa tetangga dan
kerabat. “Masuk dulu nak, bawa sini tasnya”. Kata salah satu saudaranya.
Si
gadis melepas tas punggungnya namun masih tetap di pegangnya. Tangannya
gemetar, tas yang dipegangnya jatuh. Ia sedikit berlari memasuki rumah. “Siapa
yang wafat? Siapa yang meninggal?,” Batin si gadis. Mendadak ia teringat
Ibunya. Ia masuk dan tak ada jenazah sama sekali. Ia menjerit “Ibuuu! Dimana
Ibuku?!” Teriak si gadis sambil berlari masuk rumah.
Didapatinya
Ibunya yang sedang menangis sembari
mengelus dada, sangat sedih dan terbebani sekali wajahnya. Baru kali ini ia
melihat sang Ibu seperti ini. Ia duduk di depan Ibunya. “Ibu, siapa yang
meninggal Bu, siapa bu? Zahra? Fadil?? Jawab Sarah Bu!” tanya si gadis sambil
menatap nanar ibunya. Mulut Ibunya terkunci dan air matanya justru semakin
deras mengalir, seakan air matalah yang memjawab dan mewakili segala kesedihan
beliau. Sambil menangis sang Ibu memeluk si gadis sembari berkata, “Kita bisa
Nak, Kita harus bisa tanpanya,” kata sang Ibu.
Siapa
Bu? Siapa yang meninggal? Kenapa nggak ada jenazah? Siapa Bu? Tanya si gadis
tanpa tangis sedikitpun karena dia memang tidak tahu apa yang terjadi. Dilepas
pelukan ibunya. Lalu neneknya yang berada disamping Ibunya berkata lirih dan
sesenggukan, “Ayahmu, ayahmu sudah dipanggil Allah Nduk.”
“Nggak,Nek. Nggak mungkin. Tadi siang saya masih sempat mencoba menghubungi ayah,
nggak mungkin!!!,” pecahlah air mata Sarah, si gadis yang sedari tadi merasa ada
sesuatu yang hilang itu. Bukan ibunya, adiknya, atau kerabat, tetapi sang
tulang punggungnya sendiri. Orang yang baru tadi siang ia telepon namun tanpa
jawaban karena ia berpikir bahwa kepala keluarganya itu sedang mencari nafkah
untuknya dan keluarganya. Ternyata bahkan saat ia menghubunginya pun ayahnya
sudah tiada.
Lututnya
terasa lemas. Tulang-tulang disekujur tubuhnya terasa patah, mulutnya ingin
berkata namun justru air mata yang mewakilinya. Tak pernah terkira bahwa
telepon sebelum keberangkatannya itu telepon terakhir dari ayah idolanya, dan
salam saat itu tak hanya menutup perbincangan saat itu. Namun, perbincangan untuk
selamanya.
Tenanglah dalam mimpimu, Ayah :’)