Selasa, 07 Juni 2016


LAPORAN PERJALANAN
PEMBELAJARAN LUAR SEKOLAH
SMAN 2 MAGELANG
Oleh Salma Nur Aeni

Pada Selasa, 16 Februari 2016, SMAN 2 Magelang mengadakan kegiatan PLS atau pembelajaran luar sekolah. Kegiatan ini merupakan program rutin setiap tahun oleh SMAN 2 Magelang. Pada tahun pelajaran ini program PLS dilakukan di PT Sritex dan Museum Purba Sangiran. Program PLS diikuti oleh seluruh siswa kelas X dengan jumlah kurang lebih 260 siswa. pemberangkatan dari sekolah dilakukan sekitar pukul 07.00 WIB dengan  6 bus yang telah disediakan.
Kunjungan pertama kami ialah PT Sritex (Sri Rejeki Isman), Jetis, Sukoharjo, Solo, Jawa Tengah. Kami tiba di PT Sritex pukul 11.00 WIB. PT Sritex merupakan perusahaan tekstil di Jawa Tengah yang didirikan oleh Bapak Lukminto pada 22 Mei 1978. Pt Sritex merupakan perusahaan terintegrasi terbesar di Asia Tenggara. Luas PT Sritex 135 hektar dengan 25.000 karyawan yang terbagi menjadi beberapa bagian. Saat itu peserta rombongan program PLS dibagi menjadi dua kloter karena tidak memungkinkan umtuk satu kali masuk kedalam pabrik. S Di dalam PT Sritex kami dipersilakan mengitari tempat produksi. Setelah kurang lebih setengah jam mengelilingi ruangan produksi dan melihat-lihat hasil tekstil yang telah jadi, kami kembali ke bus masing-masing lalu melanjutkan perjalanan ke Museum Sangiran.



Sekitar 2 jam waktu yang telah kami habiskan untuk menuju Museum Sangiran. Tibalah kami di Museum Sangiran sekitar pukul 13.00 WIB. Museum Sangiran merupakan museum arkeologi yang terletak di Kalijambe, Sragen, Jawa Tengah. Museum berdekatan dengan area situs fosil purbakala Sangiran yang merupakan salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO. Situs Sangiran memiliki luas mencapai 56 km² meliputi tiga kecamatan di Sragen (Gemolong, Kalijambe, dan Plupuh) serta Kecamatan Gondangrejo yang masuk wilayah Kabupaten Karanganyar. Situs Sangiran berada di dalam kawasan Kubah Sangiran yang merupakan bagian dari depresi Solo, di kaki Gunung Lawu (17 km dari kota Solo). Museum Sangiran beserta situs arkeologinya, selain menjadi objek wisata yang menarik juga merupakan arena penelitian tentang kehidupan pra sejarah terpenting dan terlengkap di Asia, bahkan dunia. Kami dibagi menjadi dua keloter lagi untuk masuk ke museum supaya di dalam museum tidak terlalu padat dan informasi yang diberikan oleh guide tersampaikan dengan baik. Di dalam museum terdapat beberapa fosil peninggalan purbakala. Kami mengikuti petugas yang dengan sabar dan rinci menjelaskan semua yang ada dalam museum dan mencatat apa yang telah dijelaskan.
Setelah dari Museum Sangiran kami melanjutkan perjalanan menuju Pasar Grosir Solo (PGS). Bus melaju dengan cukup cepat karena khawatir PGS telah tutup karena kami cukup sore tiba disana karena waktu yang cukup molor saat di Sangiran. Ternyata sesuai dugaan, PGS sudah tutup. Kemudian kami alih haluan menuju Solo Square yang lokasinya lumayan dekat dengan PGS. Kami diberi waktu selama dua jam untuk mengunjungi PGS. Ada yang membeli makanan, buku, dan ada pula yang sekedar berfoto dan sekedar berkeliling. Setelah waktu habis, kami melanjutkan perjalanan menuju restoran tempat transit untuk makan malam dan solat. Seusai dari restoran, kami melanjutkan perjalanan untuk pulang dan tiba di Magelang pukul 23.00 WIB dengan selamat.







Sapa Terakhir
Oleh Salma Nur Aeni

”Hati-hati dijalan ya nak,” ucap beliau dengan lembut. “Iya Ayah,” jawab gadis itu. “Ya sudah, matikan teleponnya sekarang tidak apa-apa,” perintah beliau. “Baik Ayah, Assalamu’alaikum,” balas sang gadis menurut. “Waalaikum salam,” jawab sang Ayah.
                Terputuslah telepon si gadis dengan sang ayah yang seminggu lalu berangkat bekerja lagi. Sang gadis yang kini telah bersama teman-temannya bersiap menaiki bus. Betapa riangnya gadis 14 tahun ini, dapat menjamah ibukota tempat ayahnya bekerja yang selama ini hanya terbesit di angannya, ditambah lagi ia satu bus dengan sahabatnya. Bus berjalan lancar, tak terlintas pikiran apapun dalam benaknya selain kebahagiaan. Ibunya senantiasa bertanya akan kabarnya, menanyai apapun yang sedang dilakukannya. Ia sudah terbiasa akan hal ini.
                Ia pun tak terpikir akan ayahnya, karena ia tahu, ayahnya tak pernah ingin mengganggu kesenangannya, dan ayahnya pasti akan mengetahui kabarnya melalui ibunya. Ia pun berpikir lega sekaligus sangat bahagia, Di hari kedua ia sangat menikmati wahana-wahana yang disuguhkan di taman bermain yang sangat terkenal di kota metropolitan itu. Dari siang hingga petang hatinya tak pernah luput dari kesenangan.
                Tak terasa hari sudah malam, ia bersama rombongan sudah di bus untuk melanjutkan perjalanan sembari menunggu hari terakhir untuk berkunjung ke kota Pekalongan. Tak lupa sang ibu bertanya akan kabarnya melalui ponsel. Hingga teman-teman di bus terlelap, ia masih berkirim pesan dengan ibunya. Seakan ia tak ingin satu hal pun terlewat untuk diceritakan kepada ibundanya itu. Terkadang ia tersenyum kecil karena lega mengetahui kabar ibunya yang baik-baik saja di rumah.
                Rasa kantuk yang amat sangat mendatanginya, hingga ia memutuskan untuk menyudahi percakapan dengan ibunya malam itu sembari berharap semoga hari esok menjadi penutup termanis pada perjalanannya kali ini.
                Pagi datang, tirai pada kaca bus mulai berhembus. Belum ada setengah perjalanan ia tempuh. Saat itu ia masih bercanda dengan kawan-kawannya. Hingga menjelang siang, teman sebangkunya yang juga sahabatnya itu menerima telepon dari saudaranya. Raut wajah temannya itu tetap seperti biasa, hingga akhirnya dari telepon, saudara yang meneleponnya meminta untuk berbicara dengan guru yang mengawasi bus nya.
                Tak ada curiga sedikitpun dari sang gadis, ia tetap ceria. Hingga akhirnya ia sampai di tempat transit berikutnya yaitu restoran. Dari situ, ia berniat untuk menelepon ibunya karena sejak pagi ibunya belum menghubunginya. 3 hingga 4 panggilan tak kunjung dijawab oleh sang ibu, hingga beberapa kali ia menelepon ayahnya yang biasanya sudah mengetahui kabar ibunya ketika pagi hari, namun sama. Tak ada jawaban. Ia berfikir sang ayah pasti sudah mulai berangkat ke kantornya dan beliau pasti sibuk.
                Tak ada raut bahagia lagi di wajah sang gadis itu. Wajahnya sangat gelisah dan bingung harus menghubungi siapa, yang terlintas di pikirannya, ia harus berbicara dengan ibunya saat itu juga. Akhirnya ia putuskan untuk menelepon ibunya lagi, dan akhirnya ada yang menjawab telepon, “Hallo,” ucap sang gadis lirih “Halo, ini Bulik nak,” jawab orang yang menerima telepon. “Kok Bulik? Ibu dimana Bulik? Saya mau bicara dengan Ibu sekarang Bulik,”tanya sang gadis kebingungan. “I.. Iya Nak, Ibu lagi dirumah tetangga sebentar,”jawab sang Bulik dengan nada kebingungan. “Ibu mana Bulik? Ibu mana? Bulik kok juga tumben datang kerumah?,” tanya si gadis karena merasa ada sesuatu yang disembunyikan. “Nanti kalau Ibu sudah pulang Bulik kabari ya, Ibu tidak apa-apa kok,”jawab sang Bulik dengan nada menghibur. “Ya, Bulik,” jawab sang gadis singkat dengan wajah yang tampak sedih. Telepon itu diakhiri.
Perjalanan berlanjut hingga akhirnya ia sampai di kota tujuan, Pekalongan. Tujuan perjalanan kesana untuk berziarah. Cuaca hari itu sangat panas ditambah perasaan si gadis yang sedang sedih. Teman-teman yang lain sudah turun, ia bersama sahabatnya pun ikut turun. Namun, si gadis tiba-tiba tidak ingin ke makam dimana banyak orang berziarah, entah karena sudah ramai pengunjung atau karena hal lain, ia sendiri pun tidak tahu.
Ia diajak sahabatnya untuk melihat baju-baju batik yang di jual berderet-deret di setiap toko yang tak jauh dari tempat ziarah. Saat temannya memilih-milih batik, ia teringat Ibunya. “Ibu, aku harus bicara dengan Ibu,”ucap sang gadis di dalam hati. Ibunya tak kunjung mengangkat teleponnya. Sang gadis melihat kursi diantara baju-baju batik yang tertata rapi. Entah karena apa, tiba-tiba ia terduduk di kursi itu dan menangis sejadi-jadinya, ia merasa kehilangan sesuatu, tapi apa, tak ada barang yang tertinggal, uang saku pun tak ada yang hilang.
Yang ada dipikiran sang gadis hanya ibunya, dan sesuatu yang terasa hilang darinya. Sesuatu yang luar biasa berharga, terasa ada yang ,merebutnya. Namun ketika ia mengingat, tak ada yang hilang sama sekali. Hatinya terasa teriris, ia sempat berpikir, apa karena ia sedang di daerah dekat makam sehingga terbawa suasana dan berpikir tentang hal yang tidak-tidak akan ibunya. Ia sangat takut akan ibunya. Ditambah Buliknya tadi berbicara dengan gugup dan dengan nada menghibur. Sampai siang ini ia belum jua mendengar suara ibunya.
Sahabatnya yang sedang memilih baju tersadar bahwa dia sedang menangis, direngkuhlah si gadis sembari dihiburnya, “Ibumu baik-baik saja, jangan takut, ada aku. Aku yakin sebentar lagi Ibumu akan menghubungimu.” Bahkan beberapa guru yang melintas juga melihatnya. Mereka pun turut menghiburnya. Tak berapa lama, ada telepon berbunyi, “Alhamdulillah, Ibu.” Ucapnya sembari mengusap air mata dikedua belah pipinya.
Tuh kan, Ibumu nelpon,” kata sahabatnya sambil tersenyum. Langsung cepat-cepat ia angkat telepon itu. “Halo? Ibu? Ibu darimana? Saya khawatir, Ibu kenapa tadi Bulik yang angkat telepon? Kok tumben sekali Bulik datang kerumah? Ada apa Bu?,” jutaan pertanyaan muncul dari sang gadis. Sang Ibu menjawab pelan, “Pelan-pelan Nak, iya Ibu dari tetangga, sekarang Ibu sedang menjaga adikmu yang sedang tidur, Bulik memang kesini untuk menanyakan belanjaannya yang kemarin ia titipkan pada Ibu.”
                “Oh begitu bu, Ya sudah bu, saya cuma khawatir aja tadi karena belum dapat kabar seharian dari Ibu, saya juga nelpon bapak beberapa kali tidak ada jawaban,” jawab si gadis. Ibunya hanya mengiyakan ucapan anaknya itu.
                Lega terasa dalam hati si gadis karena mendapati Ibunya baik-baik saja, walau tetap saja dalam lubuk hati kecilnya ia merasa ada hal yang benar-benar hilang dari hidupnya, namun sepertinya gadis itu terlihat tidak begitu peduli akan perasaannya itu. Teman-temannya pun tak henti membuatnya tertawa dan benar-benar hilang perasaan itu untuk saat ini.
                Bus melaju lagi, tujuan kali ini adalah pulang. Hingga akhirnya bus tiba di sekolah sebelum maghrib. Sang gadis turun dari bus. Ia berniat pulang jalan kaki karena jarak rumah ke sekolah ±1 km. Tak begitu jauh baginya karena itu sudah kebiasaannya. Namun sangat tak terduga, ia dijemput kakak sepupunya. “Ayo naik!,” ajaknya. “Tumben mbak, mau jemput, emang Ibu nyuruh?,” tanya si gadis. “Aku kan baik hati.” Jawabnya sambil ketawa.
                Naiklah si gadis di motor kakaknya. Namun, ketika sampai rumah, ada beberapa tenda dan beberapa kotak putih yang biasa digunakan untuk sumbangan. Saat si gadis turun dari motor, tepat didepannya terpasang bendera lelayu (tanda ada orang meninggal).  Banyak orang berkerumun disana, menatap si gadis. Seperti ingin berkata sesuatu, tapi mereka seperti tak kuasa mengatakan.
                “Mbak! Ada apa ini Mbak? Siapa yang meninggal mbak?!,” tanya si gadis dengan nada membentak. Sang kakak terlihat bingung harus menjawab apa, “Itu, tadi ada itu loh, PKK,” jawab sang kakak sekenanya. “Kalau cuma PKK kenapa ada kotak sumbangan, terus kenapa ada bendera ini mbak!.” Bentak si gadis.
                “Sudahlah, masuklah dulu, kamu udah keberatan bawa tasmu itu,” kata sang kakak. Masuklah si gadis ke rumah. Di muka pintu disambutlah ia dengan beberapa tetangga dan kerabat. “Masuk dulu nak, bawa sini tasnya”. Kata salah satu saudaranya.
                Si gadis melepas tas punggungnya namun masih tetap di pegangnya. Tangannya gemetar, tas yang dipegangnya jatuh. Ia sedikit berlari memasuki rumah. “Siapa yang wafat? Siapa yang meninggal?,” Batin si gadis. Mendadak ia teringat Ibunya. Ia masuk dan tak ada jenazah sama sekali. Ia menjerit “Ibuuu! Dimana Ibuku?!” Teriak si gadis sambil berlari masuk rumah.
                Didapatinya Ibunya yang sedang  menangis sembari mengelus dada, sangat sedih dan terbebani sekali wajahnya. Baru kali ini ia melihat sang Ibu seperti ini. Ia duduk di depan Ibunya. “Ibu, siapa yang meninggal Bu, siapa bu? Zahra? Fadil?? Jawab Sarah Bu!” tanya si gadis sambil menatap nanar ibunya. Mulut Ibunya terkunci dan air matanya justru semakin deras mengalir, seakan air matalah yang memjawab dan mewakili segala kesedihan beliau. Sambil menangis sang Ibu memeluk si gadis sembari berkata, “Kita bisa Nak, Kita harus bisa tanpanya,” kata sang Ibu.
                Siapa Bu? Siapa yang meninggal? Kenapa nggak ada jenazah? Siapa Bu? Tanya si gadis tanpa tangis sedikitpun karena dia memang tidak tahu apa yang terjadi. Dilepas pelukan ibunya. Lalu neneknya yang berada disamping Ibunya berkata lirih dan sesenggukan, “Ayahmu, ayahmu sudah dipanggil Allah Nduk.”
                Nggak,Nek. Nggak mungkin. Tadi siang saya masih sempat mencoba menghubungi ayah, nggak mungkin!!!,” pecahlah air mata Sarah, si gadis yang sedari tadi merasa ada sesuatu yang hilang itu. Bukan ibunya, adiknya, atau kerabat, tetapi sang tulang punggungnya sendiri. Orang yang baru tadi siang ia telepon namun tanpa jawaban karena ia berpikir bahwa kepala keluarganya itu sedang mencari nafkah untuknya dan keluarganya. Ternyata bahkan saat ia menghubunginya pun ayahnya sudah tiada.
                Lututnya terasa lemas. Tulang-tulang disekujur tubuhnya terasa patah, mulutnya ingin berkata namun justru air mata yang mewakilinya. Tak pernah terkira bahwa telepon sebelum keberangkatannya itu telepon terakhir dari ayah idolanya, dan salam saat itu tak hanya menutup perbincangan saat itu. Namun, perbincangan untuk selamanya.


Tenanglah dalam mimpimu, Ayah :’)
               

Jumat, 03 Juni 2016


Menulis Teks Prosedur Kompleks
Judul: Pergaulan Bebas
Oleh Salma Nur Aeni
               
                Pada zaman sekarang ini banyak sekali perilaku-perilaku para remaja yang menyimpang, seperti jauh dari sopan santun baik terhadap diri sendiri, keluarga, maupun orang lain dan masyarakat, perilaku remaja yang seperti ini disebabkan oleh pergaulan bebas.
                Pergaulan bebas seperti merokok, mabuk-mabukan, seks bebas, dan lain sebagainya terjadi karena berbagai faktor, seperti kurangnya perhatian dan penhgawasan orang tua, perceraian yang menyebabkan anak depresi sehingga ia memelampiaskan pada pergaulan bebas atau pengaruh lingkungan seperti teman, keluarga, dan sebagainya.
Dari sekian banyak efek negatif yang disebabkan oleh pergaulan bebas, lalu bagaimana cara kita untuk menghindari pergaulan bebas? Berikut caranya.
1.       Tingkatkan iman dan takwa kepada Allah Swt. Berpikirlah untuk masa depan Anda, bila Anda menginginkan masa depan yang baik, maka hendaknya Anda melakukan hal-hal baik di masa sekarang.
2.       Jadilah pemuda yang aktif dalam hal-hal positif baik di sekolah maupun di masyarakat.
3.       Pilihlah teman yang berperilaku baik, karena perilaku seseorang tidak akan jauh berbeda dengan teman terdekatnya.
4.       Jadilah orang yang senantiasa ramah terhadap orang lain, terlebih lagi terhadap orang yang lebih tua, hendaknya kita menghormati.
5.       Selain mendekat kepada Allah Swt. Mendekatlah kepada keluarga Anda, Jadilah pribadi yang terbuka dan tidak menutup diri serta rukun dengan keluarga, sehingga Anda dan keluarga memiliki hubungan yang baik.